Minim Anggaran, Kampus di Balikpapan Kesulitan Saingi ITB dan ITS ANEH!

Hari ini, terjadi Minim Anggaran, Kampus di Balikpapan Kesulitan Saingi ITB dan ITS.

Minggu, 12 Maret 2017 | 14:50 WIB

Ilustrasi mahasiswa di kampus. Shutterstock

TEMPO.CO, Balikpapan — Institut Teknologi Kalimantan kesulitan mengejar ketertinggalan dengan dua kampus tua di Indonesia yakni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Permasalahan anggaran menjadi faktor utama kesulitan perguruan tinggi negeri (PTN) berdiri tiga tahun lalu.

“Permasalahan minimnya anggaran menjadi persoalan utama kami,” kata Rektor ITK, Sulistijono, Minggu 12 Maret 2017.

Sulistijono mengatakan, ITK butuh anggaran besar guna mengejar ketertinggalan infrastrukturnya dibandingkan PTN lain di Jawa. Master plan pembangunan ITK butuh anggaran sekitar Rp 3,2 triliun sejak pendiriannya hingga 10 tahun kedepan.  

“Kami ini masih kampus muda, banyak butuh puluhan gedung, laboratorium, asrama mahasiswa hingga sarana prasarana publik. Pegawainya 111 orang terdiri dosen dan staf dimana hanya 11 menjadi pegawai negeri sipil,” tutur dia.

Realisasinya, pembangunan ITK menyedot anggaran Rp 123 miliar memasuki tahun keempat sejak pendiriannya. Alokasi anggaran ini jauh dari kata mencukupi dibandingkan PTN lain di Jawa. 

“Kami hanya punya dua gedung utama dan satu ruang laboratorium saja. Sangat jomplang dibandingkan ITB dan ITS yang setiap tahunnya memperoleh anggaran sangat besar,” ujarnya. 

Sulistijono berpendapat, pemerintah semestinya konsentrasi pembangunan infrastruktur 23 PTN baru saat ini tersebar di Indonesia. Kampus kampus negeri di Jawa, menurutnya sudah mampu hidup mandiri guna menunjang operasional pengelolaan proses belajar mengajar. ITK tahun ini memperoleh anggaran Rp 80 miliar untuk pembiayaan infrastruktur dan gaji tenaga dosen. “Kalau caranya seperti ini baru 50 tahun kedepan bisa mengejar infrastruktur ITB dan ITS,” keluhnya. 

Pemprov Kaltim dan Pemkot Balikpapan, menurut Sulistijono, juga harus berpartisipasi dalam mendukung pembangunan infrastruktur ITK. Dia menyebutkan, pemerintah daerah punya kepentingan memajukan ITK demi peningkatan sumber daya masyarakat (SDM) setempat. 

“Selama ini belum ada bantuan dari pemprov dan pemkot. Area lahan ITK yang semestinya seluas 300 hektare terealisasinya 60 hektare saja. Untuk pembangunan masjid di lingkungan kampus saja tidak ada,” tutur dia.  

Namun demikian, Sulistijono mengaku optimis dalam pengembangan ITK menjadi salah satu kampus nomor satu di Kalimantan. Dia selalu menekankan seluruh dosen agar tetap berdedikasi dalam melaksanakan tugas belajar mengajar di ITK. Meski katagori PTN baru, Sulistijiono menjamin kelulusan mahasiswa ITK dibandingkan kampus kampus negeri lainnya di Indonesia. Dia menyebutkan standar kelulusan ITK disesuaikan dengan perguruan tinggi teknik negeri lainnya seperti ITB dan ITS. Bahkan saat ini ratio seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) ITK naik menjadi 10,3 persen. Ratio SNMPTN ITK sudah hampir menyamai kampus kampus bergengsi di tanah air. 

“Artinya satu orang harus menyingkirkan 10 orang lainnya agar bisa diterima di ITK. Kalau calon mahasiswa ITB, ITS dan UI harus menyingkirkan sebanyak 20 hingga 25 pelamar,” kata dia. 

Ratio ITK terus merangkak naik mengingat tahun sebelumnya rationya hanya 1,7 persen. Satu orang calon mahasiswa ITK bersaing memperebutkan posisi dengan maksimal dua orang saja. 
“Penerimaan mahasiswa saat ini melalui SNMPTN, SBNPTN dan seleksi mandiri,” ucap dia. 

Kini, ITK memiliki 1.600 mahasiswa dari seluruh masyarakat di Indonesia. Kampus ini rencananya membuka penerimaan 900 calon mahasiswa baru 2018 mendatang. Selama tiga tahun ini, ITK membuka delapan jurusan terdiri teknik sipil, teknik mesin, teknik perkapalan, sistim informasi, tenik material dan metallurgi, kimia, fisika dan matematika.

Asisten 3 Pemprov Kaltim, Bere Ali mengatakan, pemerintah saat ini sedang terkendala keterbatasan anggaran menyusul krisis global. Pemprov Kaltim dan Pemkot Balikpapan turut terdampak penurunan alokasi perimbangan dana bagi hasil sektor migas. “Saat ini kami sedang prihatin dalam alokasi anggaran seluruhnya,” ucap dia. 

Permasalahan ini membuat Pemprov Kaltim memangkas penerima beasiswa ITK menjadi 6 orang dari sebelumnya 100 orang. Pemprov Kaltim juga tidak bisa mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur ITK. Bere hanya memastikan komitmen Pemprov Kaltim dalam pengembangan ITK di masa mendatang. Salah satunya persoalan pembebasan lahan yang segera dituntaskan. 

“Kami sadar arti penting ITK bagi masa depan Kaltim. Soal lahan akan segera diselesaikan dan masih proses,” ujarnya.

SG WIBISONO

Hot update informasi disampaikan juga pada sumber berita tentang Minim Anggaran, Kampus di Balikpapan Kesulitan Saingi ITB dan ITS.