Jemaah pengampunan Pahang cadang laksana kaedah diyat KABAR HANGAT

Kabar Indonesia tentang Jemaah pengampunan Pahang cadang laksana kaedah diyat.

Jemaah Pengampunan Pahang berencana mengadopsi metode pengampunan dari keluarga korban berdasarkan hukum Islam atau diyat sebagai alternatif terhadap tahanan yang menghadapi hukuman mati bagi keyakinan membunuh.

Pemangku Raja Pahang Tengku Abdullah Sultan Ahmad Shah bertitah metode itu yang terpercaya tidak pernah dilaksanakan di negara lain sudah dibahas pada rapat dewan jemaah pengampunan.

"Metode ini dapat memberikan kesempatan kepada narapidana supaya tidak dikenakan hukuman mati, tetapi sebagai balasan diganti dengan hukuman lain yang sesuai dan menurut pendapat keluarga korban.

"Ini pendekatan yang ada dalam hukum Islam dan proposal ini ketika diputuskan adalah bertepatan dengan syariah Islam. Dapat berdiskusi kembali dengan keluarga korban. Hal ini tergantung juga kepada kasus yang dihadapi.

"Setidaknya itu adalah alternatif. Sama-sama kita pikirkan apakah itu baik tetapi dari sudut syariat, itu diperbolehkan," titah baginda kepada wartawan setelah menyempurnakan Dewan Akreditasi Peguam Syarie Negeri Pahang di Kuantan semalam.

Turut hadir Menteri Besar Pahang Datuk Seri Adnan Yaakob, Wakil Presiden Majlis Ugama Islam dan Adat Resam Pahang (MUIP) Datuk Seri Abdul Wahid Wan Hassan dan Ketua Organisasi Peguam Syarie Pahang Mohamad Sazali Abdul Aziz.

Baginda bertitah diyat juga cocok untuk dipraktikkan kepada bangsa-bangsa lain, tidak tunduk kepada orang Islam semata-mata, untuk menunjukkan ketinggian dan kebaikan agama Islam.

Sementara itu, Tengku Abdullah dalam dalam titah ucapan beliau mengingatkan pengacara syar'i untuk mematuhi aturan hukum Islam dan etika serta praktek sebagai pengacara syariah karena mereka adalah bagian dari komponen hukum Islam.

"Saya menyarankan agar semua berusaha bersungguh-sungguh menjaga nama baik profesi ini. Pelihara martabat dan kehormatan hukum Islam.

"Jalankan tugas dan peran dengan baik demi menegakkan keadilan sehingga rakyat selalu terbela dan mendapat hak serta pembelaan yang seharusnya," titah baginda.

Tengku Abdullah bertitah sebagai golongan yang membedakan dengan hukum Islam, pengacara syar'i juga seharusnya berperan turun ke akar rumput untuk memberi penjelasan tentang kekeliruan terkait hukum Islam.

"Pengacara syar'i juga harus berperan memberikan masukan yang sesuai kepada pihak terkait yang memungkinkan perbaikan dapat dilaksanakan seperti yang dialokasikan Konstitusi Federal untuk kebaikan masyarakat," titah baginda.

Di acara itu, sebanyak 89 pengacara syar'i yang menjadi praktisi syar'i di Pahang sejak 1991 menerima akreditasi mereka, termasuk Ketua Komite Wanita dan Keluarga, Komunikasi dan Multimedia Pahang Datuk Shahaniza Shamsuddin.

Berdasarkan statistik, saat ini ada 202 pengacara syar'i yang terdaftar di bawah MUIP sejak tahun 1991 sampai tahun lalu.

– Bernama

Berita terbaru ini dikutip dari sumber informasi tentang Jemaah pengampunan Pahang cadang laksana kaedah diyat.

Leave a Reply