Jangan guna ilmu sindir orang lain, kata Zahid HOT UPDATE!

Gosip hangat saat ini ternyata benar? Jangan guna ilmu sindir orang lain, kata Zahid.

Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi menyarankan semua pihak, termasuk golongan berilmu agar tidak menggunakan sindiran politik untuk tujuan yang salah.

Lebih-lebih lagi, katanya, beberapa sindiran politik tidak sesuai dengan budaya masyarakat berbilang kaum di negara.

"Maksudnya kalau kita seorang yang berilmu jangan guna ilmu hanya untuk sindir orang lain walau dalam bentuk sindiran.

"Guna intelektual untuk kongsi bersama bukan hina rendah dan perlekeh orang lain, Itu disebut intelektual egoisme," katanya dalam konferensi pers di setelah menghadiri Forum Menteri Kebijakan Publik di Institut Tadbiran Umum Negara (INTAN) hari ini.

Zahid mengatakan demikian mengacu tindakan koran Nanyang Siang Pau yang menyiarkan karikatur kontroversial baru-baru ini.

Menurutnya, penggunaan sindiran politik dalam karikatur itu tidak sesuai dengan budaya di negara ini.

"Mungkin diizinkan dalam etika budaya lain tapi budaya Malaysia tak perlu adakan tersebut," katanya,

Sementara itu, dalam sambutannya, Zahid mengatakan jika karikatur itu dilukis dalam bentuk sindiran sinis, ini akan dianggap sebagai ilmu baru kepada golongan yang menerimanya.

"Saya tidak ingin ketika orang anggap kita sebagai profesional, kita seronok bila tengok orang itu susah. Kita merasa senang ketika orang itu sedih, "katanya.

Baru-baru ini, pers Cina itu menerbitkan kartun yang menampilkan menampilkan seekor monyet bersongkok yang berlabel "speaker" sedangkan seekor lagi memakai sorban yang dinamakan sebagai "Hadi Awang" sedang bertengger di pohon "Akta 355".

Dalam karikatur itu, "Hadi Awang" yang terpercaya mengacu kepada presiden PAS 'digambarkan memegang tongkat sihir sambil menikmati "jalar panas", sedangkan "speaker" melompat dari pohon itu, sambil berkata: "Simpan untuk hari kemudian . "

Susulan itu, sekitar 100 anggota dan pendukung PAS berhimpun di luar pekarangan kantor Nanyang Siang Pau di Petaling Jaya sambil mendesak Kementerian Dalam Negeri bertindak atas perusahaan itu karena memicu ketegangan agama.

Kementerian Dalam Negeri pada 11 April lalu memberi surat tunjuk sebab kepada koran itu dan memberi mereka tiga hari untuk menjawab. Aksi dikeluarkan berdasarkan Akta Mesin Cetak dan Penerbitan 1984.

Cerita aneh menurut media Indonesia tentang Jangan guna ilmu sindir orang lain, kata Zahid.

Leave a Reply